Manifesto



Di tempat asing ini, kita duduk berhadapan, namun tidak saling menatap.

Mirip kita, orang-orang juga sibuk memegang-meregang hidupnya sendiri.

*Konstelasi kita buruk*

/
Bila di depan nanti kau pergi lebih jauh lagi, kumohon, jangan tanya; buah tangan apa yang kuingin kaubawa pulang.
/
Kupesan bergelas-gelas teh hijau. Selalu panas, sampai lidahku mati. Sedang kau selalu minum yang dingin. Kadang teh oplosan rasa buah saat aku coba-coba minum kopi.
/
Lelautan, pagi-pagi. Setungkai kayu dihinggapi burung gereja di bawah derai hujan. Kuajak kau keluar, sebab barangkali di celah pasir, atau lewat nyanyian angin yang membungkus ombak dapat kaudapati jiwamu tenang. Kukira, kita akan selalu jadi tanjung dan teluk, yang terus tinggal, menghinggapi satu sama lain.
/ Perasaan memang sulit ditebak, ya!


(Di bawah pendar lelampuan biru dan kuning pucat, di kursi kotak panjang berderu)


Tangga

Solilokui Dunia Digital

[ ULANG TAHUN ]

Pijakan Pertama